memiliki daya tarik yang
kuat, dan kukuh sendi-
sendinya.
Sesuatu yang berdiri di
atas dasar yang tidak
kuat, tidak dapat
menghindari dari
kehancuran. Hal ini dapat
kita lihat bagaimana
kekokohan filsafat ini
dibantai habis oleh para
pengikut komunis pada
abad kedua puluh.
Pada masa-masa sebelum
kedatangan Nabi, filsafat
ini telah merasuk dan
memberikan pengaruhnya
pada ajaran Budha.
Filsafat ini hanya dapat
berkembang dalam
wilayah yang terbatas
(Cina) karena memang
Khong Hu-Cu sendiri
mendasarkan ajarannya
pada tradisi-tradisi yang
berkembang di sekitarnya.
Sedang di cina sendiri
terdapat ajaran lain yang
juga mengakar kuat yang
menjadi saingan konfusius,
yakni filsafat Taosisme-
nya Lau Tse. Jadi,di negeri
ini, terdapat tiga ajaran
yang saling tumpang
tindih. Satu sama lain
saling mempengaruhi.
Tentu saja, hal ini
menyebabkan pudarnya
orisinilitas masing-masing
ajaran.
Jumat, 14 Januari 2011
Bag.III -KONFUSIUS (Khong hu-cu)
Bag.II -KONFUSIUS (Khong hu-cu)
Dari sini, mereka meyakini
adanya takdir yang
mengatur nasib manusia.
Keyakinan kepada takdir
menurut konsepsi mereka,
diwujudkan juga dalam
kaitan pengaruh perilaku
manusia terhadap
fenomena alam tertentu.
Mereka meyakini bahwa
bencana alam, gempa
bumi, tanah longsor,
gerhana, dan lain
sebagainya dipengaruhi
perilaku dan moral
manusia yang rusak.
Maka, dengan menaati
tata aturan moral, alam
akan bersikap baik.
Selama keadilan,
keseimbangan, dan
harmoni dalam kehidupan
manusia terjaga, alam
tidak akan murka.
Perbuatan baik
mendatangkan berkah dan
perbuatan buruk
mendatangkan musibah.
Dengan demijian, terdapat
tiga hal yang sangat
berpengaruh terhadap
kehidupan, yaitu langit
dengan kekuatannya yang
sangat dipengaruhi
perilaku manusia,
pengaruh bumi terhadap
manusia yang menerima
pengaruh kekuatan langit
untuk memberikan
hukuman kepada manusia
yang meneriama pengaruh
kekuatan langit untuk
memberikan hukuman
kepada manusia, dan
perilaku manusia yang
sangat berpengaruh
terhadap ketentuan
langit. Ketiganya memiliki
hubungan saling
mempengaruhi satu sama
lain.
Maksud dari langit sendiri
bukanlah apa yang
nampak oleh mata,
melainkan lebih merujuk
pada planet-planet yang
beredar di angkasa
beserta daya yang
dimilikinya. Namun
demikian, dalam
penyembahan mereka
mengambil dua objek lain,
selain menyembah langit
sesuai dengan deskripsi
yang telah disebutkan.
Dua hal itu adalah arwah
yang mengatur segala
yang nampak, yang dalam
islam lebih sesuai dengan
peran malaikat, dan
arwah leluhur. Dari sini,
dapat disimpulkan bahwa
akidah mereka termasuk
akidah yang rusak dan
tidak berdasar pada
sumber-sumber ilahi yang
dapat dipercaya.
Walaupun mereka
mendasarkan ajaran
moralnya kepada akidah
yang keliru, toh mereka
telah berhasil membangun
tata moral yang kuat
mengakar dalam
masyarakatnya. Selama
lebih dari dua ribu tahun,
filsafat moral Khong Hu-
Cu telah menjadi panduan
hidup bangsa cina.
Dibanding bangsa yunani-
Barat, bangsa cina telah
berhasil menciptakan
tatanan praktis yang baik
yang dapat mengantarkan
masyarakat kepada
kebaikan sosial dan alam.
Hanya saja, filsafat moral
cina tidak mendasarkan
diri pada dasar akidah
yang kukuh, penuh
keimanan, dan bersih dari
spekulasi logika. Akidah
yang ideal (ash sholihah)
adalah akidah yang dapat
mewujudkan tatanan
moral yang kukuh. Akidah
yang ideal adalah yang
dapat membentuk
masyarakat yang unggul
yang senantiasa
mengharapkan kebaikan
dari Tuhan yang
melindungi, penuh
kepercayaan kepada-Nya,
adanya takdir yang
mengatur nasib manusia.
Keyakinan kepada takdir
menurut konsepsi mereka,
diwujudkan juga dalam
kaitan pengaruh perilaku
manusia terhadap
fenomena alam tertentu.
Mereka meyakini bahwa
bencana alam, gempa
bumi, tanah longsor,
gerhana, dan lain
sebagainya dipengaruhi
perilaku dan moral
manusia yang rusak.
Maka, dengan menaati
tata aturan moral, alam
akan bersikap baik.
Selama keadilan,
keseimbangan, dan
harmoni dalam kehidupan
manusia terjaga, alam
tidak akan murka.
Perbuatan baik
mendatangkan berkah dan
perbuatan buruk
mendatangkan musibah.
Dengan demijian, terdapat
tiga hal yang sangat
berpengaruh terhadap
kehidupan, yaitu langit
dengan kekuatannya yang
sangat dipengaruhi
perilaku manusia,
pengaruh bumi terhadap
manusia yang menerima
pengaruh kekuatan langit
untuk memberikan
hukuman kepada manusia
yang meneriama pengaruh
kekuatan langit untuk
memberikan hukuman
kepada manusia, dan
perilaku manusia yang
sangat berpengaruh
terhadap ketentuan
langit. Ketiganya memiliki
hubungan saling
mempengaruhi satu sama
lain.
Maksud dari langit sendiri
bukanlah apa yang
nampak oleh mata,
melainkan lebih merujuk
pada planet-planet yang
beredar di angkasa
beserta daya yang
dimilikinya. Namun
demikian, dalam
penyembahan mereka
mengambil dua objek lain,
selain menyembah langit
sesuai dengan deskripsi
yang telah disebutkan.
Dua hal itu adalah arwah
yang mengatur segala
yang nampak, yang dalam
islam lebih sesuai dengan
peran malaikat, dan
arwah leluhur. Dari sini,
dapat disimpulkan bahwa
akidah mereka termasuk
akidah yang rusak dan
tidak berdasar pada
sumber-sumber ilahi yang
dapat dipercaya.
Walaupun mereka
mendasarkan ajaran
moralnya kepada akidah
yang keliru, toh mereka
telah berhasil membangun
tata moral yang kuat
mengakar dalam
masyarakatnya. Selama
lebih dari dua ribu tahun,
filsafat moral Khong Hu-
Cu telah menjadi panduan
hidup bangsa cina.
Dibanding bangsa yunani-
Barat, bangsa cina telah
berhasil menciptakan
tatanan praktis yang baik
yang dapat mengantarkan
masyarakat kepada
kebaikan sosial dan alam.
Hanya saja, filsafat moral
cina tidak mendasarkan
diri pada dasar akidah
yang kukuh, penuh
keimanan, dan bersih dari
spekulasi logika. Akidah
yang ideal (ash sholihah)
adalah akidah yang dapat
mewujudkan tatanan
moral yang kukuh. Akidah
yang ideal adalah yang
dapat membentuk
masyarakat yang unggul
yang senantiasa
mengharapkan kebaikan
dari Tuhan yang
melindungi, penuh
kepercayaan kepada-Nya,
Bag.I -KONFUSIUS (Khong hu-cu)
Ketika ajaran Budha
menyebar sampai daratan
Cina, agama ini telah
berubah menjadi agama
berhala yang menyembah
sosok Budha, manusia
biasa yang berhasil
merumuskan persoalan
spiritual dengan
renungannya yang
mendalam.
Di negeri barunya,
awalnya ajaran Budha
mendapat banyak
pengikut melebihi negeri
asalnya, India.
Hal ini karena masyarakat
Cina termasuk tipikal
masyarakat yang memiliki
perhatian yang tinggi
terhadap tata moral (budi
pekerti). Pergumulan
ajaran Budha yang
memiliki ajaran moral
yang khas dengan tradisi
baru yang sangat
menghargai budi pekerti,
membuat pengaruh agama
Budha semakin kuat.
Namun, karena tidak di
dukung dasar (akidah)
yang kuat, ajaran ini tidak
dapat bertahan lama.
Penghormatan
masyarakat Cina terhadap
tata moral (budi pekerti)
sangat dipengaruhi oleh
pandangan seorang tokoh
filsafat negeri itu, Khong
Hu-Cu yang di barat lebih
dikenal dengan nama
Konfusius. Tokoh ini hidup
hampir bersamaan dengan
masa hidup pendiri agama
Budha, Siddhartha
Gautama.
Jika Siddhartha Gautama
hidup pada tahun 563
SM-483 SM di india, maka
Khong Hu-Cu hidup dari
tahun 551 SM hingga
tahun 479 SM di Cina.
Pada awalnya, Khong Hu-
Cu atau Konfusius
bukanlah sebuah agama.
Ia hanyalah sebuah aliran
filsafat yang berkembang
di Cina. Namun, kultus
individu terhadap
pendirinya telah
menggeret pengikutnya
untuk melakukan
penyembahan terhadap
tokoh ini. Selama masa
hidupnya Khong Hu-Cu
sama sekali tidak pernah
mendakwahkan ajarannya
sebagai sebuah agama.
Sebaliknya, ajaran yang di
bawa tokoh ini lebih
bersifat sekuler karena
hanya membatasi pada
persoalan moral politik
dan pribadi, serta akhlak
dalam bertingkah laku.
Secara tegas Khong Hu-Cu
menolak pengaitan
ajarannya dengan
persoalan ketuhanan.
Dalam filsafatnya ini,
Khong Hu-Cu sangat
menjauhi perbincangan
mengenai alam akhirat
dan segala bentuk unsur
metafisik.
Dalam hal keyakinan,
Khong Hu-Cu sendiri
menganut ajaran yang
berkembang luas di
sekitarnya.
Yakni,mempercayai
adanya kekuatan langit
yang mengatur alam
semesta. Semua fenomena
yang terjadi di muka bumi
adalah akibat dari
pengaruh langit. Langit
dapat murka, dan dapat
pula bahagia. Mereka
meyakini jika langit itu
memiliki kesadaran dan
kehidupan, bergerak
dengan aturan yang rumit,
pasti dan teratur. Langit
memiliki kekuasaan yang
mutlak terhadap alam
semesta. Segala sesuatu
yang terjadi di bumi
adalah akibat pengaruh
kekuatan langit. Langit
yang berkesadaran
memiliki kekuasaan untuk
menentukan segalanya.
menyebar sampai daratan
Cina, agama ini telah
berubah menjadi agama
berhala yang menyembah
sosok Budha, manusia
biasa yang berhasil
merumuskan persoalan
spiritual dengan
renungannya yang
mendalam.
Di negeri barunya,
awalnya ajaran Budha
mendapat banyak
pengikut melebihi negeri
asalnya, India.
Hal ini karena masyarakat
Cina termasuk tipikal
masyarakat yang memiliki
perhatian yang tinggi
terhadap tata moral (budi
pekerti). Pergumulan
ajaran Budha yang
memiliki ajaran moral
yang khas dengan tradisi
baru yang sangat
menghargai budi pekerti,
membuat pengaruh agama
Budha semakin kuat.
Namun, karena tidak di
dukung dasar (akidah)
yang kuat, ajaran ini tidak
dapat bertahan lama.
Penghormatan
masyarakat Cina terhadap
tata moral (budi pekerti)
sangat dipengaruhi oleh
pandangan seorang tokoh
filsafat negeri itu, Khong
Hu-Cu yang di barat lebih
dikenal dengan nama
Konfusius. Tokoh ini hidup
hampir bersamaan dengan
masa hidup pendiri agama
Budha, Siddhartha
Gautama.
Jika Siddhartha Gautama
hidup pada tahun 563
SM-483 SM di india, maka
Khong Hu-Cu hidup dari
tahun 551 SM hingga
tahun 479 SM di Cina.
Pada awalnya, Khong Hu-
Cu atau Konfusius
bukanlah sebuah agama.
Ia hanyalah sebuah aliran
filsafat yang berkembang
di Cina. Namun, kultus
individu terhadap
pendirinya telah
menggeret pengikutnya
untuk melakukan
penyembahan terhadap
tokoh ini. Selama masa
hidupnya Khong Hu-Cu
sama sekali tidak pernah
mendakwahkan ajarannya
sebagai sebuah agama.
Sebaliknya, ajaran yang di
bawa tokoh ini lebih
bersifat sekuler karena
hanya membatasi pada
persoalan moral politik
dan pribadi, serta akhlak
dalam bertingkah laku.
Secara tegas Khong Hu-Cu
menolak pengaitan
ajarannya dengan
persoalan ketuhanan.
Dalam filsafatnya ini,
Khong Hu-Cu sangat
menjauhi perbincangan
mengenai alam akhirat
dan segala bentuk unsur
metafisik.
Dalam hal keyakinan,
Khong Hu-Cu sendiri
menganut ajaran yang
berkembang luas di
sekitarnya.
Yakni,mempercayai
adanya kekuatan langit
yang mengatur alam
semesta. Semua fenomena
yang terjadi di muka bumi
adalah akibat dari
pengaruh langit. Langit
dapat murka, dan dapat
pula bahagia. Mereka
meyakini jika langit itu
memiliki kesadaran dan
kehidupan, bergerak
dengan aturan yang rumit,
pasti dan teratur. Langit
memiliki kekuasaan yang
mutlak terhadap alam
semesta. Segala sesuatu
yang terjadi di bumi
adalah akibat pengaruh
kekuatan langit. Langit
yang berkesadaran
memiliki kekuasaan untuk
menentukan segalanya.
Bag.III -Budha
Bukan sebaliknya, dikuasai
dan dikendalikan oleh
kehidupan.
Kelompok kedua tidak
mengamalkan ajaran-
ajaran Budha yang berat.
Mereka mengambil jalan
tengah. Tidak terlalu
ekstrim dalam
meninggalkan jenikmatan
dunia dan tidak berlebihan
dalam memanfaatkannya.
Kelompok ini mengambil
ajaran Budha yang
berkaitan dengan budi
pekerti seperti rendah
hati, jujur, dan amanah.
Ringkasnya, kelompok
kedua ini hanya
mengamalkan lima prinsip
ajaran Budha yang bersifat
larangan, yakni tidak
membunuh, tidak mabuk-
mabukan, tidak mencuri,
tidak berbohong, dan
tidak berzina. Untuk
bentuk-bentuk larangan
lainnya tidak mereka
amalkan. Namun, justru
karena terjadinya
perpecahan dalam intern
pengikut Budha, ajaran ini
masih memiliki pengikut,
terutama Budha aliran
modernis yang cenderung
moderat. Namun, tidak
jarang pula ajaran-ajaran
Budha ini ditinggalkan
secara total oleh para
pengikutnya karena
begitu berat untuk dapat
diamalkan.
Kesimpulan yang dapat
diambil dari ajaran ini
adalah tidak mungkin
hanya dengan akal
manusia dapat dapat
dirumuskan tata aturan
yang paripurna,
bermanfaat bagi
kehidupan pribadi yang
spiritual, dan kehidupan
sosial yang damai, apalagi
mendapat jaminan
keselamatan di akhirat
kelak. Belum lagi jika
dihadapkan pada
persoalan jarak waktu
yang terbilang jauh dari
masa hidup sang pendiri.
Campur tangan sejarah
dalam merubah sesuatu
ajaran tidak dapat
dihindari.
Ajaran yang tdk mmlki
dasar yg kuat akn sgra
kehilangn relevansinya.
Dg khilngn rlvnsiny, agma
itu akn dtgalkn para
pngikutny.
dan dikendalikan oleh
kehidupan.
Kelompok kedua tidak
mengamalkan ajaran-
ajaran Budha yang berat.
Mereka mengambil jalan
tengah. Tidak terlalu
ekstrim dalam
meninggalkan jenikmatan
dunia dan tidak berlebihan
dalam memanfaatkannya.
Kelompok ini mengambil
ajaran Budha yang
berkaitan dengan budi
pekerti seperti rendah
hati, jujur, dan amanah.
Ringkasnya, kelompok
kedua ini hanya
mengamalkan lima prinsip
ajaran Budha yang bersifat
larangan, yakni tidak
membunuh, tidak mabuk-
mabukan, tidak mencuri,
tidak berbohong, dan
tidak berzina. Untuk
bentuk-bentuk larangan
lainnya tidak mereka
amalkan. Namun, justru
karena terjadinya
perpecahan dalam intern
pengikut Budha, ajaran ini
masih memiliki pengikut,
terutama Budha aliran
modernis yang cenderung
moderat. Namun, tidak
jarang pula ajaran-ajaran
Budha ini ditinggalkan
secara total oleh para
pengikutnya karena
begitu berat untuk dapat
diamalkan.
Kesimpulan yang dapat
diambil dari ajaran ini
adalah tidak mungkin
hanya dengan akal
manusia dapat dapat
dirumuskan tata aturan
yang paripurna,
bermanfaat bagi
kehidupan pribadi yang
spiritual, dan kehidupan
sosial yang damai, apalagi
mendapat jaminan
keselamatan di akhirat
kelak. Belum lagi jika
dihadapkan pada
persoalan jarak waktu
yang terbilang jauh dari
masa hidup sang pendiri.
Campur tangan sejarah
dalam merubah sesuatu
ajaran tidak dapat
dihindari.
Ajaran yang tdk mmlki
dasar yg kuat akn sgra
kehilangn relevansinya.
Dg khilngn rlvnsiny, agma
itu akn dtgalkn para
pngikutny.
Bag.II -Budha
bila segala nafsu dan
hasrat dapat ditiadakan
yang dalam ajaran budha
disebut nirvana.
Keempat, menimbang
benar, berpikir benar,
berbicara benar, berbuat
benar, cari nafkah benar,
berusaha benar,
mengingat benar, dan
meditasi benar.
Untuk melatih manusia,
Budha mengajarkan
sepuluh prinsip pokok
larangan. Prinsip-prinsip
itu adalah
1.jangan membunuh,
2.jangan mencuri, jangan
marah, dan jangan
mengambil harta yang
tidak disuguhkan
untukmu,
3.jangan berbohong,
jangan berkata perkataan
yang tidak benar,
4.jangan mimum arak,
5.jangan berzina,
6.jangan makan makanan
mentah,
7.jangan menggunakan
wangi-wangian, jangan
menghiasi kepala dengan
bunga-bungaan,
8.jangan berdansa-dansi,
dan jangan menghadiri
tempat yang di lakukan
dansa-dansi, dan forum
yang penuh lantunan lagu-
lagu,
9.jangan menggunakan
alas (tidur) yang empuk,
dan jangan menggunakan
bantal, dan
10.jangan mencari
(menggunakan) emas dan
perak.
Dengan mengamati
sejarah dan prinsip-prinsip
ajaran ini, dapat kita lihat
bahwa rumusan ajaran
Budha tidak didasarkan
pada keyakinan kepada
Tuhan yang maha kukuh.
Bahkan, sebagian
informasi menyebutkan
bahwa budha tidak
meyakini adanya Tuhan
yang memunculkan
kehidupan. Karena alasan
ini, setelah kematian
Budha (483 SM.), para
pengikutnya terjebak
dalam penyembahan
berhala.
Hati mereka tidak bersih
dari penyekutuan karena
akidah yang mereka
pegangi hanya berangkat
dari perenungan dan
penalaran seseorang
semata. Selain itu, cara
hidup asketik (zuhud) dan
penuh larangan yang
dikembangkan yang tidak
memperbolehkan sama
sekali mengambil
kebaikan dan manfaat
dari sesuatu,
memunculkan kesan
bahwa fasilitas hidup itu
hanya sebagai barang
pameran yang diciptakan
hanya untuk dilihat dan
dirindukan oleh hati setiap
manusia tanpa boleh
dimanfaatkan. Maka,
tidak heran jika ajaran
Budha hanya dapat
dijalankan dalam
komunitas tertentu saja.
Ajaran ini tidak dapat
diterapkan secara umum.
Padahal, aturan yang ideal
bagi kemanusiaan adalah
yang dapat diamalkan
oleh setiap orang. Karena
ajaran ini tidak dapat
diamalkan secara utuh
dan luas (kurang relevan),
para pengikut Budha
terpecah menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok
konservatif dan modernis.
Kelompok pertama
berusaha
mempertahankan ajaran
Budha secara utuh.
Mereka membatasi diri
pada jenis makanan
tertentu, menahan diri
dari jdnis makanan yang
lain, dan memilih pakaian
yang kasar. Hal ini mereka
lakukan agar dapat
menguasai dan
mengendalikan kehidupan.
Ke lanjutan.
hasrat dapat ditiadakan
yang dalam ajaran budha
disebut nirvana.
Keempat, menimbang
benar, berpikir benar,
berbicara benar, berbuat
benar, cari nafkah benar,
berusaha benar,
mengingat benar, dan
meditasi benar.
Untuk melatih manusia,
Budha mengajarkan
sepuluh prinsip pokok
larangan. Prinsip-prinsip
itu adalah
1.jangan membunuh,
2.jangan mencuri, jangan
marah, dan jangan
mengambil harta yang
tidak disuguhkan
untukmu,
3.jangan berbohong,
jangan berkata perkataan
yang tidak benar,
4.jangan mimum arak,
5.jangan berzina,
6.jangan makan makanan
mentah,
7.jangan menggunakan
wangi-wangian, jangan
menghiasi kepala dengan
bunga-bungaan,
8.jangan berdansa-dansi,
dan jangan menghadiri
tempat yang di lakukan
dansa-dansi, dan forum
yang penuh lantunan lagu-
lagu,
9.jangan menggunakan
alas (tidur) yang empuk,
dan jangan menggunakan
bantal, dan
10.jangan mencari
(menggunakan) emas dan
perak.
Dengan mengamati
sejarah dan prinsip-prinsip
ajaran ini, dapat kita lihat
bahwa rumusan ajaran
Budha tidak didasarkan
pada keyakinan kepada
Tuhan yang maha kukuh.
Bahkan, sebagian
informasi menyebutkan
bahwa budha tidak
meyakini adanya Tuhan
yang memunculkan
kehidupan. Karena alasan
ini, setelah kematian
Budha (483 SM.), para
pengikutnya terjebak
dalam penyembahan
berhala.
Hati mereka tidak bersih
dari penyekutuan karena
akidah yang mereka
pegangi hanya berangkat
dari perenungan dan
penalaran seseorang
semata. Selain itu, cara
hidup asketik (zuhud) dan
penuh larangan yang
dikembangkan yang tidak
memperbolehkan sama
sekali mengambil
kebaikan dan manfaat
dari sesuatu,
memunculkan kesan
bahwa fasilitas hidup itu
hanya sebagai barang
pameran yang diciptakan
hanya untuk dilihat dan
dirindukan oleh hati setiap
manusia tanpa boleh
dimanfaatkan. Maka,
tidak heran jika ajaran
Budha hanya dapat
dijalankan dalam
komunitas tertentu saja.
Ajaran ini tidak dapat
diterapkan secara umum.
Padahal, aturan yang ideal
bagi kemanusiaan adalah
yang dapat diamalkan
oleh setiap orang. Karena
ajaran ini tidak dapat
diamalkan secara utuh
dan luas (kurang relevan),
para pengikut Budha
terpecah menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok
konservatif dan modernis.
Kelompok pertama
berusaha
mempertahankan ajaran
Budha secara utuh.
Mereka membatasi diri
pada jenis makanan
tertentu, menahan diri
dari jdnis makanan yang
lain, dan memilih pakaian
yang kasar. Hal ini mereka
lakukan agar dapat
menguasai dan
mengendalikan kehidupan.
Ke lanjutan.
Bag.I -Budha
BUDHA
Setelah ajaran Brahmana
mengakar kuat dalam
tradisi masyarakat (India)
dengan sistem kastanya,
sebagaimana pula dialami
ajaran lainnya, muncul
orang-orang yang tidak
puas atas tata aturan
yang telah mapan.
Seorang anak raja
bernama Siddhartha
Gautama (563 SM-483 SM)
yang dibesarkan di dalam
istana mewah tidak betah
dengan hidup serba
berkecukupan. Ia
dirundung rasa
keprihatinan yang
mendalam. Dari balik
jendela istana, ia melihat
sebagian orang dalam
keadaan kesusahan.
Dalam sehari, kadang
makan kadang tidak.
Hal ini diperparah dengan
tradisi kasta yang
mengakar kuat sehingga
seseorang yang berkasta
rendah tidak dapat
mengembangkan diri
menjadi pribadi yang lebih
mulia.
Tatkala berumur 29 tahun,
tidak lama sesudah putra
pertamanya lahir,
Gautama mengambil
keputusan meninggalkan
kehidupan istananxa dan
menghambakan diri
sebagai upaya mencari
kebenaran sejati. Pada
saat itu, anggapan umum
mengatakan bahwa
bertapa itu jalan menuju
kearifan dan kebenaran
sejati.
Atas dasar anggapan itu,
Gautama mencoba
menjadi seorang pertapa,
bertahun-tahun puasa
serta menahan nafsu
secara maksimal.
Akhhrnya dia sadar laku
menyiksa diri hanya
berujung mengaburkn
pikiran, dan bukannya
malah menuntun lebih
dekat kepada kebenaran
sejati.
Dengan kondisi lemah,
bagaimana pikiran dapat
mencerna berbagai
macam persoalan
kehidupan. Ia beralih
kepada cara yang lain
untuk mencari kebenaran
dalam kehidupan. Dalam
kesendirian yang tenang
tentram, dia bergumul
dengan perikehidupan
problem manusiawi.
Akhirnya, pada suatu
malam, ketika dia sedang
duduk di bawah sebuah
pohon berdaun lebar dan
berbuah seperti buah pir
yang penuh biji, maka
berdatanganlah teka-teki
masalah hidup seakan
berjatuhan menimpanya.
Semalaman suntuk
Siddhartha merenung
secara mendalam. Ketika
mentari merekah di ufuk
timur, dia tersentak dan
secara bersamaan ia
merasa yakin bahwa
persoalan dan teka-teki
kehidupan yang rumit
telah berhasil ia
pecahkan. Lalu, ia mulai
menyebut dirinya sebagai
Budha yang berarti "Orang
yang mendapat
pencerahan
(penerangan)". Pokok
ajaran Budha dapat
diringkas di dalam apa
yang menurut istilah
penganutnya disebut
"Empat kebajikan
kebenaran".
Pertama, kehidupan
manusia itu pada dasarnya
tidak bahagia.
Kedua, sebab ketidak-
bahagiaan ini adalah
karena selalu memikirkan
kepentingan diri sendiri
serta terbelenggu oleh
nafsu.
Ketiga, pemikiran
kepentingan diri sendiri
dan nafsu dapat ditekan
habis
ke lanjutan.
Setelah ajaran Brahmana
mengakar kuat dalam
tradisi masyarakat (India)
dengan sistem kastanya,
sebagaimana pula dialami
ajaran lainnya, muncul
orang-orang yang tidak
puas atas tata aturan
yang telah mapan.
Seorang anak raja
bernama Siddhartha
Gautama (563 SM-483 SM)
yang dibesarkan di dalam
istana mewah tidak betah
dengan hidup serba
berkecukupan. Ia
dirundung rasa
keprihatinan yang
mendalam. Dari balik
jendela istana, ia melihat
sebagian orang dalam
keadaan kesusahan.
Dalam sehari, kadang
makan kadang tidak.
Hal ini diperparah dengan
tradisi kasta yang
mengakar kuat sehingga
seseorang yang berkasta
rendah tidak dapat
mengembangkan diri
menjadi pribadi yang lebih
mulia.
Tatkala berumur 29 tahun,
tidak lama sesudah putra
pertamanya lahir,
Gautama mengambil
keputusan meninggalkan
kehidupan istananxa dan
menghambakan diri
sebagai upaya mencari
kebenaran sejati. Pada
saat itu, anggapan umum
mengatakan bahwa
bertapa itu jalan menuju
kearifan dan kebenaran
sejati.
Atas dasar anggapan itu,
Gautama mencoba
menjadi seorang pertapa,
bertahun-tahun puasa
serta menahan nafsu
secara maksimal.
Akhhrnya dia sadar laku
menyiksa diri hanya
berujung mengaburkn
pikiran, dan bukannya
malah menuntun lebih
dekat kepada kebenaran
sejati.
Dengan kondisi lemah,
bagaimana pikiran dapat
mencerna berbagai
macam persoalan
kehidupan. Ia beralih
kepada cara yang lain
untuk mencari kebenaran
dalam kehidupan. Dalam
kesendirian yang tenang
tentram, dia bergumul
dengan perikehidupan
problem manusiawi.
Akhirnya, pada suatu
malam, ketika dia sedang
duduk di bawah sebuah
pohon berdaun lebar dan
berbuah seperti buah pir
yang penuh biji, maka
berdatanganlah teka-teki
masalah hidup seakan
berjatuhan menimpanya.
Semalaman suntuk
Siddhartha merenung
secara mendalam. Ketika
mentari merekah di ufuk
timur, dia tersentak dan
secara bersamaan ia
merasa yakin bahwa
persoalan dan teka-teki
kehidupan yang rumit
telah berhasil ia
pecahkan. Lalu, ia mulai
menyebut dirinya sebagai
Budha yang berarti "Orang
yang mendapat
pencerahan
(penerangan)". Pokok
ajaran Budha dapat
diringkas di dalam apa
yang menurut istilah
penganutnya disebut
"Empat kebajikan
kebenaran".
Pertama, kehidupan
manusia itu pada dasarnya
tidak bahagia.
Kedua, sebab ketidak-
bahagiaan ini adalah
karena selalu memikirkan
kepentingan diri sendiri
serta terbelenggu oleh
nafsu.
Ketiga, pemikiran
kepentingan diri sendiri
dan nafsu dapat ditekan
habis
ke lanjutan.
Bag.II -BRAHMA
berlangsung secara turun-
temurun. Sehingga, orang
yang berkasta tinggi tidak
akan pernah turun
pangkat ke derajat yang
lebih rendah. Begitu pula
sebaliknya.
Keutamaan dalam bidang
keagamaan juga sangat
terkait dengan strata
sosial seseorang. Selain
para Brahma dilarang
membaca kitab Wedha.
Dalam salah satu
aturannya disebutkan
bahwa jika ada seorang
berkasta rendah
mendengarkan bacaan
Wedha, maka hendaknya
raja mengecor telinga
orang tersebut dengan
timah.
Demikian aturan dan cara
beribadah kelompok yang
di dalamnya terkandung
paganisme (berhalaisme).
Seandainya saja cara
berpikir ini diikuti dan
ditaati secara mutlak,
niscaya akan terjadi
kemunduran dalam segi
mental dan sosial
masyarakat.
temurun. Sehingga, orang
yang berkasta tinggi tidak
akan pernah turun
pangkat ke derajat yang
lebih rendah. Begitu pula
sebaliknya.
Keutamaan dalam bidang
keagamaan juga sangat
terkait dengan strata
sosial seseorang. Selain
para Brahma dilarang
membaca kitab Wedha.
Dalam salah satu
aturannya disebutkan
bahwa jika ada seorang
berkasta rendah
mendengarkan bacaan
Wedha, maka hendaknya
raja mengecor telinga
orang tersebut dengan
timah.
Demikian aturan dan cara
beribadah kelompok yang
di dalamnya terkandung
paganisme (berhalaisme).
Seandainya saja cara
berpikir ini diikuti dan
ditaati secara mutlak,
niscaya akan terjadi
kemunduran dalam segi
mental dan sosial
masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)